Malam tadi emak mendatangiku dalam mimpi,
Duduk di pinggir tempat tidurku,
Memijit kakiku dengan lembut,
Emak tak berkata apa-apa,
Hanya memberiku tatapan
Tatapan yang mengandung daya,
Tatapan itu berujar :
“jangan mengeluh, ini hidupmu, dirimulah yang harus menghidupi hidupmu”
Emak,
Anakmu rindu,
Datang lagi malam ini,
Membagi energi lagi,
Emak,
Anakmu rindu….
Emak
Asu Pujaanku
Aku panggil kamu asu,
Kamu panggil aku kirik,
Su-rik,
Perjumpaan alter ego kita,
Su, aku rindu dekapmu,
Dekapmu lebih mencandu
Tinimbang orgasme 7 kali yang kau beri malam tadi,
Su, aku rindu sinismemu
Memaki dunia yang kejam
Sekaligus menjadi bagian darinya
Su, aku rindu ciumanmu
Su, aku masih tak habis pikir dengan pilihanmu
Memilih hidup diujung timur negeri
Yang “tertinggal” dan dimiskinan
Tapi Su, disini, di tanah “beradab” ini
Manusia tak lebih beradab dari mereka yang dipanggil primitive
Su, dunia memang chaos
Di timur mu, di kotaku
Yang ada hanyalah chaos
Mari menghadapinya su,
Memaki kechaosan dunia sekaligus menjadi bagian darinya
Su, aku merinduimu
Mari bercinta lagi,
Kamu asu pujaanku

Sesiang di Koja…
Terik,
Direngkuh mentari
Aku hilang
Ditengah kerumunan
Teriakan atas nama tuhan
Allahu akbar,
Satpol PP sialan
Hajar,
Gusur,
Tangkap,
Bunuh,
Hancurkan,
Bajingan,
Lalu tumpah,
Darah
Nyawa
Airmata
Aku hilang
Ditengah kerumunan
Banalitas Kejahatan Migrasi terhadap Perempuan (Refleksi hari Kartini 2010)

“Tadi siang kami sungguh terharu, tersentuh oleh sekelumit derita hidup, Seorang bocah berumur 6 tahun berjualan rumput….Si Bocah tidak berbapak, emaknya pergi berkerja , di rumah ditinggalkannya dua orang adiknya, laki-laki semua….kami tanyakan apakah dia sudah makan. “Belum”, mereka hanya makan sehari sekali,yaitu di sore hari, saat ibunya pulang dari bekerja, Di siang hari mereka makan kue sagu aren seharga 0,5 sen…. Aku teringat pada makan kami, tiga kali sehari dan terasa begitu aneh, begitu asing di dalam perasaanku…,kami memberinya makan tetapi tidak dimakannya,nasinya dibawa pulang.
“Malulah aku terhadap keangkaraanku, Aku renungi dan pikirkan keadaan sendiri, dan di luar sana begitu banyak derita dan kemelaratan melingkungi kami ! Seketika itu juga seakan udara menggetar oleh ratap-tangis, erang dan rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku: Kerja ! Kerja ! Kerja ! Perjuangkan kebebasanmu, Baru kemudia kalau kau telah bebaskan dirimu dengan kerja, dapatlah kau menolong yang lain-lain! Kerja ! Kerja ! Kerja ! Aku dengar itu begitu jelas, nampak tertulis di depan mataku….” (Surat Kartini untuk Ny. Abendanon, 8 April 1902)
Kutipan surat Kartini (1879-1904) tersebut dengan terang menggambarkan bagaimana kemiskinan yang dihadapi oleh rakyat disekitarnya. Perjumpaan dengan kemelaratan seorang anak miskin penjual rumput merobek kesadarannya yang selama ini hanya bergumul dengan dirinya sendiri, yang mencari jalan pembebasan dari belenggu ruang sempit pingitan bernama feodalisme. Kemiskinan dan penderitaan rakyat disekitarnya menyalakan semangat Kartini bahwa pembebasan dirinya adalah jalan untuk membebaskan yang lain, rakyatnya yang miskin dan tertindas.
Pada masa Kartini hidup, zaman gelap Tanampaksa, seperti diceritakan oleh Multatuli, yang menyelimuti bangsanya belum benar-benar usai. Pemerasan tenaga manusia untuk kepentingan kolonial memang sudah dianggap Kartini sebagai “masalalu” yang kelam. Tapi sisa-sisanya dalam bentuk kemiskinan dan penderitaan masih menjadi keseharian bagi rakyatnya. Kartini hidup pada masa transisi, saat tanah Jawa mengalami “kebangkrutan”, setelah dihisap hasil bumi dan tenaga manusianya. Tapi Kartini memang sungguh mengagumkan, dia menyadari bahwa perjuangan bagi dirinya sendiri tidak cukup. Keseluruhan pemikirannya yang kita baca dalam Surat-suratnya untuk para sahabat, menunjukkan keberakarannya pada bangsanya yang pada saat itu terkungkung kemiskinan dan kolonialisme. Dalam satu suratnya untuk Ny. N. Van Kol tertanggal 27 April 1902, Kartini menulis :
“Dan apa yang bagus dari bangsa-bangsa lain, sekarang ingin sekali kami berikan kepada bangsa sendiri. Bukan untuk mendesak sifat-sifat sendiri yang bagus dan menggantinya dengan yang asing, melainkan untuk memuliakannya!. Turut membantu menaikkan derajat bangsa, meningkatkannya kearah pandangan tata susila yang lebih tinggi yang dengan demikian sampai pada keadaan masyarakat yang lebih baik dan lebih bahagia, adalah cita-cita kami yang patut dibela seumur hidup! Bagaimana mencapai cita-cita itu? Memulai dengan apa? Semua itu harus dimulai dari permulaan yaitu : Pendidikan!”
Lebih dari seratus tahun telah berlalu sejak kematian Kartini. Zaman gelap itu kembali menyelimuti bangsanya,khususnya kaumnya, kaum perempuan. Pada masanya, kaum perempuan ningrat disandera dalam pingitan dan permaduan, tak boleh keluar rumah dan tak berhak berpendidikan. Sedang kaum perempuan biasa non-ningrat didera kemiskinan, kelaparan adalah keseharian bagi mereka. Kini, kemiskinan mendorong para para perempuan untuk bermigrasi ke luar negeri, kemelaratan telah meruntuhkan rasa takut untuk mengadu nasib, bertaruh nyawa di negeri orang. Sebagian besar mereka bekerja sebagai pekerja rumah tangga, sebagian kecil bekerja di pabrik-pabrik, dan sebagian yang lain diperdagangkan, dipaksa melacur dan menjadi pengantin migran. Kementrian Tenaga Kerja RI mencatat saat ini 3.043.927 orang buruh migrant Indonesia bekerja di Luar Negeri, 74 % diantaranya adalah perempuan.
Latar belakang kondisi migrasi para perempuan ke Luar Negeri nampak sedikit mirip dengan kondisi rakyat kebanyakan pada masa Kartini. Selepas tanampaksa, tanah-tanah garapan yang pada mulanya dikelola dan dimiliki Petani diambil alih oleh Partikelir menjadi perusahaan-perusahan besar, para petani “ tidak lagi hidup dari tanah garapannya, juga tidak dari kesetiaannya pada golongan feudal, tidak dari tanggung jawab kampungnya, tidak dari pemerasan, tidak dari perdagangan, tetapi dari menjual tenaganya” (Ananta-Toer, 2003). Kondisi tersebut persis dialami oleh mereka yang tinggal di pedesaan saat ini, para petani kehilangan tanah garapan, sedang di kota-kota lapangan pekerjaan makin menyempit. Pada akhirnya, krisis ekonomi domestik membuat perempuan harus mengambil alih menjadi penopang ekonomi keluarga, meninggalkan kampung halaman dan keluarga, tak ada pilihan lain kecuali bermigrasi menjadi buruh migran.
Migrasi terpaksa (forced migration) yang dilakukan mayoritas kaum perempuan ini mengandung resiko pada dirinya. Karena sejak awal migrasi ini bukan pilihan sukarela (voluntary migration), tidak ada persiapan yang memadai agar migrasi dapat dilakukan dengan aman dan menjamin perlindungan HAM. Labih dari itu, tenaga manusia kini telah menjadi komoditas yang nilai ekonomisnya sangat menjanjikan. Tahun lalu jumlah remiten yang berhasil dihasilkan buruh migrant mencapai US$ 6.615.321.274 milyar. Remitensi yang dihasilkan oleh para buruh migrant mampu menggerakkan ekonomi, meski lebih banyak dalam bentuk konsumsi daripada produksi. Buruh migrant yang menjadi salah satu penyangga ekonomi nasional saat ini, sekali lagi mirip dengan kondisi pada masa Kartini, para pekerja perkebunan dan pertambangan adalah penopang utama bagi perusahaan-perusahaan kolonial yang “mencuri” hasil bumi milik bangsa Kartini. Lewat tanampaksa negeri penjajah berlebih-lebih pendapatan, pada tahun 1877 jumlah kelebihan pendapatan mencapai 800 Juta Gulden. Ketika tanampaksa berakhir, tenaga manusia masih terus diperas, menjadi penopang hasil produksi perkebunan dan pertambangan.
Setiap tahun jumlah perempuan yang bekerja ke luar negeri semakin meningkat. Cerita kelam tentang penderitaan yang dialami mereka juga meningkat. Sejak fase perekrutan, masa bekerja, hingga kembali ke tanah air, berbagai persoalan muncul dan menjadi keseharian. Rupa-rupa kasus yang dihadapi mulai dari persoalan perburuhan seperti : Gaji tidak dibayar, kecelakaan kerja yang mengakibatkan sakit hingga meninggal dunia, bekerja diluar kontrak yang disepakati, kerja paksa dan tidak mendapatkan waktu istirahat. Dan persoalan pelanggaran HAM seperti : Penipuan, kekerasan, pelecehan seksual, pemerkosaan dan penyiksaan. Data berbicara, tahun lalu (2009) Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) mencatat 7.709 kasus yang dialami buruh migran. Sedangkan jumlah yang meninggal dunia lebih dari seribu orang.
Migrasi tenaga kerja ke luar negeri memang menguntungkan banyak pihak, tidak hanya keluarga buruh migrant yang menikmati uang kiriman, tapi para calo perekrut, perusahaan pengerah tenaga kerja, perusahaan transportasi, Asuransi, Imigrasi hingga Perbankan, ikut menikmati keringat, darah dan airmata buruh migrant. Karenanya, ia menjadi salah satu lahan subur yang terus dipelihara kelestariannya, tanpa peduli apakah persyaratan migrasi yang aman sudah terpenuhi atau belum. Bisnis “penjualan” tenaga kerja ke luar negeri dihidupi dengan menghisap tenaga perempuan. Kenyataan-kenyataan menyakitkan yang harus dihadapi kaum perempuan pekerja migran seperti Penyiksaan, pelecehan dan kekerasan seksual, eksploitasi tiada henti menjadi banalitas dalam kehidupan keseharian mereka dan kita. Karena begitu seringnya terjadi, kadangkala kita hanya menganggapnya menjadi peristiwa kriminal biasa.
Kini, cita-cita Kartini yang hendak membawa perempuan keluar dari pingitan feodalisme dan berperan pada urusan publik, mungkin sudah tercapai. Sebagian besar bangsanya sudah terdidik, sebagian perempuan telah menempati posisi-posisi penting dalam pemerintahan. Tetapi itu nyatanya tidak cukup. Setelah kaum Perempuan dapat keluar rumah, mengambil peran di ruang publik, mereka siap diterkam oleh belenggu-belenggu lain dalam bentuk baru. Dulu dan kini, kondisi perempuan memang jauh berbeda. Tapi benarkah dalam perbedaan antara dulu dan kini itu terdapat perubahan yang mendasar? Tenaga dan tubuh perempuan adalah “komoditas” menguntungkan yang menarik perhatian banyak pihak. Tenaga dan tubuh perempuan dengan mudah dimobilisasi dari desa-desa miskin ke pusat-pusat perputaran modal, dari negara-negara bekas penjajahan ke negara-negara kaya. Mengambil peran instrumental di ruang domestik dan di sektor industri hiburan. Kemajuan teknologi dan transportasi mempermudah lalu-lintas tenaga dan tubuh tersebut. Para perempuan dijual serupa barang , dipaksa melacur, menjadi korban perdagangan manusia. Yang lainnya, dipekerjakan dengan upah murah, bahkan tanpa upah, dengan resiko dianiaya dan diperkosa.
Eksplotasi kapitalisme lama pada masa Kartini sungguh sangat vulgar dan telanjang di depan mata. Dari mulai sistem lama tanampaksa hingga imperialisme modern yang mengeruk habis kekayaan dan sumberdaya manusia bangsa Indonesia. Kini, wajah eksploitasi tak sevulgar dulu, negara dan aparatusnya, bangsa sendiri yang berpendidikan, berperan aktif meliberalisasi migrasi tenaga kerja. Berbagai macam aturan hukum dibuat agar pengerahan tenaga kerja dapat dipermudah. Manusia dengan akal budi, kehendak dan rasa yang dimilikinya diperlakukan serupa benda-benda yang siap dilempar ke pasar mana saja yang meminta. Pada akhirnya, dulu dan kini, derita yang dihadapi rakyat Kartini tak jauh berbeda.
Kartini dikenang sebagai penjuang emansipasi wanita. Seharus lebih dari itu, karena dia tidak berjuang bagi kaumnya (perempuan) semata, tapi bagi keseluruhan rakyatnya yang kala itu terhina. Cita-cita Kartini adalah pembebasan kaumnya dan bangsanya dari keterbelakangan dan kemiskinan. Cita-cita tersebut harus dilanjutkan. Perjuangan kaum perempuan tak boleh eksklusif bagi dirinya sendiri, tapi harus menjadi bagian dari perjuangan bersama, dengan mereka yang ditindas dan dihinakan. Sebagai penutup, saya kutip potongan surat Kartini suratnya untuk Estella Zeehandelar tertanggal 17 Mei 1902 :
“ Harapan saya sekarang hanyalah, mudah-mudahan pengumuman cita-cita kami itu bermanfaat bagi perkara kami dan tidak merusaknya. Maka untuk pertama kali nama saya disebutkan bersama-sama dengan bangsa saya. Dengan bangsa saya itulah selanjutnya nama saya bersatu! Saya bangga Stella, disebut senapas dengan bangsa saya!”
ditulis oleh Yuniasri
Tentang Ibuku I
Ini tentang ibuku..
Perempuan terhebat didunia,
Pagi hari berjualan dipasar..menggendong karung berisi kangkung, bayam dan sayuran lain hasil dari kebun kami..
Siang hari memasak untuk suami dan anak-anaknya…Menanti mereka pulang sekolah sambil terkantuk-kantuk
Mak…masak apa siang ini? Huuh, sayur terong lagi, sayur yang paling aku benci.
Kadang aku berpikir ibuku lebih menyayangi kakak lelakiku, selalu masak sayur terong kesukaannya
Tapi ibu paling tau apa yang membuat selera makanku tumbuh lagi….
Sambal terasi, tempe dan ikan asin, rasanya tak ada menu restoran manapun didunia ini yang bisa menandingi kenikmatannya.
Siang menjelang sore, Ibu pergi kekebun melihat-lihat tanaman palawija, lalu memetiknya untuk dijual esok pagi.
Setelah sholat maghrib dan membaca al-Qur’an, biasanya ibu mulai memilih dan mengikat sayuran-sayuran tersebut,
seunting demi seunting sayuran. Terkadang kalau jumlahnya banyak, terus berlanjut sampai jauh malam.
Sambil terbatuk-batuk, masuk angin dan kedinginan..
Kadang aku membantunya, tapi seringkali ibuku bilang sudah kamu belajar aja….
Ibuku perempuan yang kuat, ia menjalani itu berpuluh tahun lamanya…
Lelah letih seperti tidak pernah dirasakan, bahkan disaat titik terendah hidup yang harus kami jalani, ditambah dengan bentakkan, hardikkan, sesekali kekerasan secara fisik dari suaminya, ia tidak pernah mengeluh.
Mungkin Ibukku pikir Tuhan keduanya setelah allah adalah suaminya…
Seluruh hidupnya diberikan untuk anak-anak dan suaminya..
Masih terngiang ditelingaku, setiap malam aku tidak bisa tidur sebelum rambutku dibelai-belai sambil di iringi bacaan al- Qur’an surat al-Waqi’ah. Terus tak berhenti sampai aku benar terlelap….
Idza waqo’atil waqi’ah, laisa liwaq’atiha kaadzibah, Idza rajjatil aldlu rajja…..dst
Pesannya untukku “ Rajinlah membaca surat ini supaya rezekimu lancar, jangan pelit dan sering-seringlah berbagi apa yang kita punya kepada orang lain, insya Allah tak akan putus rejekimu
Ibuku perempuan hebat…
Sajak kefanaan
Datang pergi
Memiliki kehilangan
Kehidupan Kematian
Kita tidak pernah dimintai persetujuan sebelum terlempar kedunia
Sebagaiman kematian yang datang seketika tanpa permisi
Kehilangan menjadi terasa berat ketika rasa memiliki telampau kuat menguasai diri
Kedatangan kita selalu menuntun kita untuk pulang kembali
Karena kita hanya singgah dalam kefanaan
Untuk sahabatku EM, February 26, 2010
Suamiku adalah Tuhanku II
Inikah jalanku menuju surgamu Tuhan?
Surga yang akan kugapai melalui laki-laki ini
Imamku, ayah anak-anakku
Tapi Tuhan, apakah setiap kebahagiaan dikehidupan sana musti ditebus
Dengan penderitaan dikehidupan sini?
Kenapa tak kau pindahkan saja surgamu disini
di dunia ini tanpa perlu menunggu mati
Kenapa tak kau hadirkan surgamu disini
saat pengabdian ini kujalani
Sebagai istri, sebagai ibu dari anak-anaknya
apakah kenikmatan surgawi harus selalu dibayar dengan kesakitan di dunia tuhan?
Betapa tipis perbedaan pengabdian dan pengorbanan perempuan
Suamiku adalah Tuhanku I
Keringat sisa bercinta ronde pertama masih belum kering
Waktu kau telanjangi lagi tubuhku
Kau mewujud serupa singa lapar yang memangsa tubuhku
Tak sejengkalpun tersisa
Atas nama kapatuhan seorang istri
Dan harum wangi surga yang nanti akan kudapatkan
Kubiarkan kau cabik-cabik tubuhku Meski tak ada cinta, meski tanpa pesona
Aku tak lebih sebongkah daging mentah
Perih dan Luka adalah tumbal untuk kebahagiaan di hari kemudian Suamiku adalah Tuhanku
Petang…
Petang datang…
Seperti biasa keriuhan hadir di depan kamar kos saya. Keriuhan itu berasal dari suara burung-burung gereja yang kembali ke rumah mereka.
Rumah mereka di pohon kayu putih yang berdiri kokoh di depan kamar kos saya di Timur Jakarta.
Keriuhan ini sebenarnya tidak hanya pada petang, pada fajar keriuhan burung-burung itu serupa weker yang membangunkan saya pada pagi hari.
Mendadak saya sadar, bahwa saya terlempar disini, di Jakarta
Saya tidak pernah merencanakan untuk hidup di kota yang arogan ini
Dua tahun lalu saya hampir memutuskan untuk kembali ke Jogja,
Mempertahankan cinta dan cita-cita saya disana, tapi situasi pada saat itu sungguh
Tidak memungkinkan saya kembali kesana
Pada akhirnya saya bertahan di sini, menikmati keterlemparan saya di kota ini
Ada sisi-sisi positif dari kota ini yang saya nikmati
Sekolah dan teman-teman baru
Dalam sendiri, di kota yang keras ini, saya merasa proses menjadi subyek yang utuh semakin dinamis, terus menjadi dan terus menjadi.
Mungkin ini lebih baik, tinimbang saya paksakan kembali ke Yogya dengan hati yang rapuh
Burung-burung sudah tenang di peraduan, saya kembali berhening di kamar saya yang hangat.
Kampung ambon, December 2009
Pagi…
Hujan kepagian
Gemericiknya melantunkan kidung sirep
Meninabobokan dan mendorong kita untuk menarik selimut lagi
Karena dingin menyergap pagi kita
tapi kita harus bangun kekasih
Memutar gir kehidupan
ambil bagian dalam perayaan ini
